Posted in Islami

Terpidana Mati dan Calon Pengantin


Begitu unik dan beragamnya tamsil untuk para da’i. Ibarat seorang yang diputus pengadilan untuk dihukum mati (terpidana mati). Maka ketika akan dieksekusi di suatu kota, ia dibawa naik pesawat terbang yang selama hidupnya belum pernah ia alami. Dikenakan jas setelan yang necis berikut dasi dan sepatu hitam mengkilap. Di dalam pesawat ia pun dijamu dengan pelayanan istimewa dan pelayan-pelayan wanita yang ramah dan cantik. Tapi semua fasilitas dan pelayanan itu tidak membuatnya gembira, karena ia tahu bahwa setelah sampai di kota tujuan ia akan segera dihukum mati. Ia sadar bahwa ia seorang terpidana mati. Apalah artinya kesenangan hidup yang sebentar kalau akhirnya ia harus dihukum mati.

Berbeda dengan seorang pemuda yang akan bertemu kekasihnya di suatu kota. Kerinduannya yang memuncak membuatnya melupakan penderitaan selama di perjalanan menuju kota tempat kekasihnya berada. Meskipun ia naik kereta api kelas ekonomi dan satu gerbong dengan sayuran, kambing dan sapi ditambah berbaurnya antara peluh penumpang dan baunya kotoran ternak, sudah itu panas terik menyengat karena memang kereta tidak ber-AC. Sekilas membuat pemuda itu mengeluh. Tapi segera ia tersenyum penuh makna dan bahagia karena apalah artinya perjalanan yang melelahkan, menyebalkan dan menderita kalau toh akhirnya berujung kebahagiaan, bertemu dengan sang pujaan, kekasih yang dicintai dan sebentar lagi akan dinikahinya. Ia sadar dalam keadaan tersiksa
dalam kereta api itu tetap menyimpan rasa yang menggelora, karena ia seorang calon pengantin.

Itulah potret da’i yang selama hidupnya di dunia mendapat begitu banyak tantangan dan rintangan laksana air hujan. Cemo’ohan dan ejekan akrab menerpa. Lebih menyakitkan semua bentuk hinaan dan penentangan ini datang dari keluarganya. Gelar-gelar sebagai manusia aneh sudah banyak disandangnya. Tetapi kalau melihat janji Allah s.w.t. tentang indahnya surga dan membandingkan dengan penderitaan yang dialami oleh Nabi s.a.w. dan para sahabat radhiallahu ’anhum. terdahulu, tekanan batin penderitaan ini seketika menjadi sirna. Apalah artinya hidup enak, senang dan bergelimang harta kalau nanti di akhirat harus menderita selama-lamanya. Dan apalah artinya penderitaan dunia yang sebentar kalau nantinya akan bahagia selama-lamanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s