Posted in Islami

Hidup Di Dunia Sebentar Saja Kehidupan Akhirat Itulah Yang Sebenarnya


Hidup Di Dunia Sebentar Saja Kehidupan Akhirat Itulah Yang Sebenarnya

Alam kandungan adalah tempat untuk menyempurnakan jasad

Alam dunia adalah tempat untuk menyempurnakan amal 

Dari setetes air mani Allah jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Allah jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Allah jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Allah bungkus dengan daging. Kemudian Allah jadikan dia makhluk yang sebaik-baik pencibtaan yaitu manusia. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Alam kandungan tempat menyempurnakan jasad.

Selama seorang bayi masih di dalam kandungan ibunya yang menghubungkan seorang anak dengan ibunya hanya tali plasenta saja. Dari situlah seorang bayi mendapatkan makan berserta minuman dan kebutuhan-kebutuhan yang lainnya. Ketika di dalam kandungan kalaulah si bayi tadi berpikir untuk apa saya punya tangan, untuk apa saya punya kaki, untuk apa saya punya mata, untuk apa saya punya mulut, untuk apa saya punya telinga. Kan tali plasenta ini saja sudah cukup untuk saya karena dari situlah dia mendapatkan kehidupan.

Setelah si bayi tadi terlahir ke dunia baru dia menyadari betapa pentingnya tangan, betapa pentingnya kaki, betapa pentingnya mata, betapa pentingnya mulut, betapa pentingnya telinga. Kalaulah di dalam kandungan Allah SWT tidak sempurnakan tangan, kaki atau mata dia maka ketika dia terlahir ke dunia dalam keadaan cacat. Walaupu dia memohon dan meminta kepada Allah jutaan kali untuk kembali ke alam kandungan menyempurnakan jasadnya, Allah SWT tidak akan kabulkan. Karena alam kandungan telah dia lalui dan dia sekarang berada dalam alam dunia. Maka sibayi tadi akan cacat seumur hidupnya.

Alam Dunia tempat untuk menyempurnakan amal.

Kalaulah di dunia kita berpikiran. Untuk apa saya shalat, untuk apa saya puasa, untuk apa saya bersedekah, untuk apa saya naik haji, itu semua hanya membuang-buang waktu saja. Bukankah kehidupan di dunia ini hanya satu kali saja makanya harus dinikmati sebaik mungkin. Ketika dia meninggal dunia barulah dia tahu apa gunanya shalat, apa gunanya puasa, apa gunanya sedekah, apa gunanya haji. Walaupu dia memohon dan meminta kepada Allah jutaan kali untuk kembali ke alam dunia untuk menyempurnakan amalnya walaupun hanya untuk satu hari saja maka doanya ditolak Allah SWT.

Ketika seorang bayi dilahirkan ke atas dunia maka semua keluarga menyambutnya dengan perasaan gembira. Sang ayah sangat gembira sekali karena bayi yang telah lama dia nantikan lahir dengan selamat. Begitu juga dengan seorang ibu bukan main senangnya dia karena perjuangannya selama 9 bulan sudah berakhir dan mendapatkan anak mungil dan cantik jelita. Semua yang menyambut kelahiran bayi itu sangat gembira sekali. Tetapi di balik semua kegembiraan itu sang bayi yang baru lahir tadi, sebaliknya tangisan yang sangat histeris yang dia lantunkan. Bukan hanya anggota keluarga yang mendengarkan tangisan bayi itu bahkan tetangga-tetangga pun mendengarkan tangisan bayi itu. Mengapa sang bayi menangis di balik kegembiranan semua orang. Karena dia faham betul dia akan menghadapi kehidupan dunia yang penuh dengan cobaan, yang penuh dengan penderitaan, yang penuh dengan dosa-dosa, yang penuh dengan senda gurau. Tangisan sang bayi itu rupanya mengandung makna yang mendalam tetapi kita tidak pernah memikirkannya.

Sebaliknya ketika sang bayi mulai tumbuh dewasa dan menikah serta punya anak kemudia dia meninggal dunia maka semua anggota keluarga akan menangis dengan histerisnya yang dulunya dia di sambut saat kelahiran dengan kegembiraan tetapi ketika meninggal dunia tangisan yang dia dapatkan. Sang anak tadi ketika dia hidup di dunia dia isi kehidupannya dengan agama, mentaati apa yang diwajibkan Allah kepadanya dan menjauhi apa yang dilarang. Ketika dia meninggal dunia maka di balik tangisan semua orang malah dia tersenyum dengan manisnya. Karena dia faham betul selama ini yang dia rindukan akan dia dapatkan, selama ini yang dia impikan akan dia dapatkan berupa sorganya Allah SWT yang di dalamnya akan kekal selamanya.

Kehidupan di dunia ini seperti menaiki kendaraan. Ayah duduk di depan sebagai sopir, sang istri di sampingnya, dan anak-anak di belakang. Ketika sampai di tengah perjalanan, seorang pemuda yang tampan menyetop mobil mereka, “Stop!” kata si pemuda tadi maka sang ayah bertanya, “Kamu siapa?”.  “Saya Rupiah”. “Oh silahkan masuk. Ibu ke belakang dulu ya, rupiah mau masuk”. Maka ibu pun mudur ke belakang. Setelah melakukan perjalanan, jumpa lagi dengan pemuda yang lebih tampan lagi. Maka si bapak bertanya, “Kamu siapa?”. “Saya dollar”. “Oh silahkan masuk”. Maka dia pun menyuruh si rupiah untuk menggeser sedikit supaya dollar bisa masuk karena dollar lebih berharga dari rupiah. Di tengah perjalanan lagi, seorang pemuda yang sangat tampan sekali menyetop mobil beliau. Maka sang ayah bertanya, “Kamu siapa?”. “Saya agama”. “Aduh sudah tidak ada tempat, mobilnya sudah penuh”

Di dalam hati kita sudah tidak ada lagi tempat untuk agama karena semuanya sudah diisi dengan istri, anak, rupiah dan dollar. Sampailah pada penghujung jalan, berjumpa lagi dengan pemuda yang buruk rupanya, bengis, dan kejam. Sang ayah bertanya, “Kamu ini siapa?”. “Saya adalah malaekat maut”. Sang ayah menjawab, “Tunggu dulu, tadi ada yang ketinggalan di tengah jalan, saya mau menjemputnya, dia itu agama”. Maka malaekat maut berkata, “Tidak ada lagi waktu untukmu!”. Maka dia pun mati tidak bawa agama. Maka penderitaan-penderitaanlah yang dia dapatkan mulai dari siksa kubur sampi dia nanti dicampakkan ke dalam neraka.

Satu hari di akhirat = 1.000 tahun di dunia. Kalaulah kita hidup di dunia 60 atau 70 tahun, kita hidup di dunia ini kurang lebih 2 ½ jam saja perhitungan akhirat. Ketika dilahirkan, kita akan diadzankan. Begitu juga ketika kita mati, kita dishalatkan. Begitu singkat kehidupan kita yang hanya antara adzan dengan shalat saja.

Mulai saat ini, detik ini kita niatkan di dalam hati kita, harta saya, waktu saya, usia saya, diri saya bahkan mati saya untuk agama Allah Subhaananu wata’alaa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s