Posted in Islami

Agama Wujud Apabila Kita Korban


Nabi buat usaha atas agama Allah telah beri amanah buat ajak manusia taat kepada Rabb yang sesungguhnya, mengajak manusia yang penuh dengan nur kehidupan yang penuh dengan hidayah, kehidupan yang penuh dengan kelemah-lembutan dan akhlak yang afimah. Satu per satu kegelapan telah pergi dan berganti dengan cahaya, perlahan-lahan kesesatan telah Allah rubah dengan petunjuk, perlahan-lahan kebuasan saat itu Allah telah rubah dengan kelemah-lembutan dan kasih sayang.

Bukan mudah Nabi buat usaha, Nabi pergi pagi pulang petang menghadapi bermacam-macam kesusahan dan penderitaan, caci-maki bahkan ancaman bunuh daripada orang-orang kafir yang ketika itu belum menerima Agama ini.

Khadijah r.ha hari demi hari terus mengorbankan kehormatannya, kemuliaannya, dan seluruh harta bendanya untuk bantu perjuangan Nabi. Ketika Nabi belum buat dakwah, Nabi belum ajak-ajak manusia pada kebaikan, seluruh penduduk Mekkah panggil dengan Al-Amin (Nabi yang terpercaya), Nabi Ash-Siddiq (Nabi yang bisa dipegang bicaranya), Nabi At-Tayyib (Nabi yang paling baik).

Tetapi ketika Nabi mulai kerja dakwah, satu per satu gelar itu mereka ganti, Nabi Al-Majenun (Nabi gila), Nabi pendusta, Nabi adalah ahli sihir yg nyata dan pendusta besar. (Na’udzubillah)

Hari demi hari Nabi buat usaha dakwah, pergi pagi dengan pakaian putih bersih, pulang petang hari dengan rambut penuh debu, baju telah kotor dengan kotoran unta, kotoran kambing, bahkan tak jarang tubuh Nabi yang putih kadang-kadang berlumuran darah pulang di petang hari.

Terkadang sering kali Nabi pulang terlambat ke rumah karena sibuk ajak manusia kepada kebaikan, selamatkan manusia dari huru-hara padang mahsyar. Nabi mau manusia selamat dari hura-hara akhirat sehingga sering kali Nabi terlambat pulang.

Ketika pulang, istri telah tidur, Nabi ketuk pintu sekali dua kali tidak dibuka maka Nabi buka surban dan tidur di depan rumah dengan udara sejuk dan badai padang pasir sering mengamuk tapi Nabi duduk di luar dan tertidur di luar hingga pagi menjelang subuh. Khadija r.ha bangun barulah tau kalau suami tidur di luar dan dibangunkan.

Bukan Khadijah yang minta maaf tapi Nabi salallahu’alaihi wassallam yang minta maaf.. “Maafkan aku Khadijah, aku tak mau mengganggu nyenyak tidurmu tadi malam, aku tak mau ganggu mimpi indahmu tadi malam.”

Subhanallah.. begitu lembutnya akhlak Nabi salallahu ‘alaihi wasslallam.

Seluruh harta kekayaan Khadijah diserahkan pada suaminya Nabi salallahu’alaihi wassallam untuk perjuangkan Agama ini. 2/3 harta kekayaan di Kota Mekkah milik Khadijah. tetapi ketika Khadijah hendak menjelang wafat, tidak ada pakaian, tidak ada kafan digunakan untuk menutupi jasad Khadijah radhiyallahu ‘anha. bahkan pakaian Khadijah yang digunakan ketika itu adalah pakaian yang sudah sangat kumuh dengan 83 tambalan diantaranya dengan kulit kayu.

Dikisahkan satu hari Nabi salallahu ‘alaihi wassallam pulang dari kerja dakwah. Ketika pulang, masuk ke dalam rumah, biasa Khadijah menyambut berdiri di depan pintu. Ketika Khadijah berdiri hendak menyambut Nabi salallahu ‘alaihi wassallam, Nabi berkata..”Wahai Khadijah tetaplah kamu ditempatmu..” Ketika itu Khadijah sedang menyusu Fatimah yang masih bayi.

Karena begitu pengorbanan Nabi dan Khadijah untuk Agama ini, hingga saat ini kita bisa mengenal Rabb, kita bisa mengenal sholat, kita bisa mengenal Tuhan sebenarnya, dan kita bisa mengenal Allah.

Seluruh harta kekayaan mereka telah habis, sehingga Fatimah hendak menyusu, bukan air susu yang keluar tapi darah yang keluar dan masuk ke dalam mulut Fatimah r.ha. Maka Nabi salallahu ‘alaihi wassallam telah mengambil Fatimah dan meletakkan di tempat tidur dan Nabi salallahu ‘alaihi wassallam berbaring di pangkuan Khadijah radhiyallahu ‘anha.

Nabi begitu lelah jumpa manusia dengan menghadapi caci maki dan fitnah manusia, ketika itu Nabi tertidur, ketika itulah dengan belaian kasih sayang membelai kepala Nabi salallahu ‘alaihi wassallam tidak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Nabi.

Dan Nabi terbangun berkata “Wahai Khadijah mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal mempersuamikan aku Muhammad, dahulu engkau wanita bangsawan engkau mulia engkau hartawan tetapi hari ini engkau telah dihina orang, Semua orang telah menjauh darimu, seluruh harta kekayaanmu telah habis, adakah engkau menyesal wahai Khadijah mempersuamikan aku (Muhammad)..??”

Khadijah berkata “Wahai suamiku, wahai Nabi Allah, bukan itu yang aku tangiskan, dahulu aku memiliki kemuliaan, kemuliaan itu aku serahkan pada Allah dan Rasul-Nya, dahulu mempunyai kebangsawanan, kebangsawanan itu aku serahkan pada Allah dan Rasul-Nya, dahulu aku memiliki harta kekayaan dan kuserahkan juga pada Allah dan Rasul-Nya.

Wahai Rasulullah, sekarang aku tidak mempunyai apa-apa lagi, tetapi engkau masih terus memperjuangkan Agama ini. Wahai Rasulullah, sekiranya aku telah mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, sekiranya engkau hendak menyebrangi sebuah sungai, lautan, engkau tidak mempunyai rakit atau jembatan maka engkau galilah lubang kuburku, engkau gali, engkau ambil tulang belulangku, engkau jadikanlah sebagai jembatan untuk menyebrangi sungai itu, untuk jumpa manusia, ingatkan kepada mereka kebesaran Allah, ingatkan kepada mereka yang hak, ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah”

Allahu Akbar.

Seorang suami yang agung seorang istri yang agung, suami istri berpelukan sambil menangis memikirkan Agama ini.

Agama tersebar hingga hari ini, kita kenal Allah, bukan dengan mudah. Agama sampai pada kehidupan kita, Agama sampai pada kampung kita, Agama sampai masuk ke dalam rumah-rumah kita, Agama sampai pada ke hati-hati kita. Bukan dibawa oleh burung, bukan dibawa oleh angin, bukan dibawa oleh air sungai yang mengalir tapi dibawa oleh pengorbanan Nabi dan para Sahabat, dibawa oleh para janda-janda para sahabat, dibawa oleh yatim-yatim para sahabat.

Ulama sampaikan, hari ini kita senang-senang amal Agama di atas penderitaan dan jeritan janda-janda dan yatim-yatim para sahabat. Hari ini kita senang amal-amal Agama di atas penderitaan Khadijah r.ha..!!!

Kalaulah hari ini kita tidak menghargai pengorbanan mereka, apa yang harus kita jawab di hadapan Allah, kalaulah kita jumpa Allah. Apa yang kita jawab di hadapan Nabi. Apa yg kita jawab di depan Abu Bakar yang menghabiskan seluruh harta bendanya untuk Agama ini. Apalah yang akan kita jawab di hadapan ibu-ibu yang mulia, kalau ibu jumpa dgn sahabiyah-sahabiyah yang mengorbankan suaminya syahid di jalan Allah. Apa yang akan kita jawab sekiranya kita jumpa anak-anak yatim para sahabat, sedangkan mereka yang telah menggerakan ayah-ayahnya untuk memperjuangkan Agama ini.

Allahu Akbar

Agama sangat berhajat pada pengorbanan, Agama tidak akan tersebar dengan tulisan-tulisan dan Agama tidak akan tersebar dengan bicara-bicara. Agama tidak akan pernah wujud dalam kehidupan kita tanpa mengorbankan diri kita, sudah menjadi syarat Agama akan wujud melalui pengorbanan, hidayah akan datang dalam diri kita melalui pengorbanan, Agama akan tersebar hidayah akan tersebar di ujung dunia melalui pengorbanan.

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad 7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s